Pages

Tuesday, 26 March 2013

Learn to Learn


Hei! Ayo dibaca postingan yang ini. Biasanya kan gue posting dari gue sendiri, kali ini gue mau berbagi hal dari sebuah buku yang pernah gue baca... Dan belum rampung. Hehe. Yah, semoga bermanfaat lah. Sesuai judunya, postingan kali ini bersangkut paut sama belajar. Mulai dari pengertian, tujuan, kendala, faktor penunjang keberhasilan belajar, metode, dsb..


Pertama, apa sih pengertian belajar? Kalau dari buku yang gue baca ini, belajar itu berarti mencoba, yaitu kegiatan mencoba sesuatu yang belum atau tidak diketahui. Mungkin diantara readers, pengertian tadi masih kurang. Tiap orang kan nggak selalu sama. Ya,simpulkan sendiri deh. Hehe. Belajar itu identik banget sama membaca, membacanya bisa hal yang tertulis ataupun nggak, jadi bisa ngebawa orang supaya tau sesuatu yang sebelumnya dia nggak tau. Ngerti? Oke deh kalo ngerti. Tapi bener ngerti? Ngerti ga? Yang bener, nih? Oke, abaikan.
Trus, apa tujuan belajar? Nah, dari buku lagi nih.. Katanya, tujuan belajar itu sangat terkait dengan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Apa aja? Ini dia :
● Untuk mendapatkan pengetahuan (acquiring knowledge). Tujuan belajar yang ini biasanya ditandain sama kemampuan berpikir, soalnya pengetahuan dan kemampuan berpikir itu dua hal yang nggak bisa dipisahin. (ciyyeee) *ignore*.
● Penanaman konsep keterampilan. Keterampilan ini diperluin baik yang sifatnya jasmani ataupun rohani. Keterampilan jasmani lebih ke keterampilan gerak seseorang yang lagi belajar, lebih ke hal-hal teknis, juga pengulangan. Kalau yang sifatnya rohani hubungannya sama penghayatan, keterampilan berpikir, kreatifitas buat nyelesaiin atau ngerumusin masalah atau konsep.
● Pembentukan sikap. Disini, peran tenaga pengajar (guru atau doden atau apalah yang berbau pengajar dan bukan bau asem pastinya) nggak sekedar jadi pihak yang mentrasfer pengetahuan, tapi juga jadi pendidik yang mindahin nilai-nilai pembentukan sikap buat para peserta didiknya.

Kendala Dalam Belajar
A. Kendala Internal
Langsung aja ke contoh. Misalnya, kematengan yang belum nyampe ke taraf perkembangan tertentu buat melajarin sesuatu, intelegensia yang rendah, dan keadaan biologis yang keganggu.
Soal Intelegensia, biasanya biar tau tingkat kemampuan intelegensia orang, pakenya tes IQ (Intelegence Quotion) atau mungkin tes potensi akademik, atau tes-tes lainnya. Ke-nggak-cocokan jurusan sama kemampuan intelektual, bakat khusus juga minat bisa juga jadi kendala dalam belajar.
Keadaan biologis yang keganggu juga bisa jadi kendala dalam belajar. Kalau pepatah latin bilang : Men sana in corpore sano. Kalau kata bahasa Indonesia, akal sehat terdapat dalam badan yang sehat pula. Contohnya orang sakit, kalau orang lagi sakit, rasa sakitnya itu ngaruh buat dia termasuk waktu lagi belajar. Nggak percaya? Mau nyoba? Coba sendiri ya. Atau mungkin juga cacat jasmani, contohnya rabun senja, buta, bisu, tuli, lumpuh, gagu, termasuk juga juling timpal dan kidal. Tapi pede aja ya, bagi yang ngalamin hal-hal tadi. Fisik itu bukan prioritas yang bisa kita nilai untuk seseorang. Ada hal-hal lainnya yang patut dinilai. (Weist! Tumben bijak. Emang bijak? Siapa yang bilang? Mau banget dibilang bijak? Oke, lupakan). Lagipula, ada pepatah yang bilang “Don’t judge the book by its cover”. Ya ga? Artinya apaan ya?
Punya cacat jasmani juga bisa numbuhin kesukaran kepribadian. Cacatnya bisa menghambat proses belajarnya. Kesadaran soal adanya kekurangan dibanding temen-temenya mungkin bisa bikin gangguan emosi, walaupun keliatan normal. Nah, yang begitu itu tugas pendidik/pengajar supaya lebih merhatiin peserta didik yang cacat jasmani supaya ngimbangin temen-temenya.

B. Kendala Eksternal
Kendala ini bisa kayak suasana lingkungan belajar yang nggak baik, penerangan nggak memadai, suasana belajar nggak kondusif, kegiatan yang  terlalu kompleks, dsb. Kendala yang ini bisa diusahain kayak ngebenerin situasi dan penyesuaian sama lingkungan. Misalnya, lingkungan belajar yang nggak kondusif diusahain biar jadi kondusif dan kalau belum bisa juga, bisa pindah ke lingkungan belajar yang lebih baik. Atau sebagainya.
Terus harus diinget juga, kalau situasi eksternal bukan faktor dominan yang nentuin keberhasilan belajar seseorang. Kebiasaan juga punya peranan disituasi ‘susah’ tadi. Oke, contoh : Seseorang yang biasa belajar di tempat rame, atau di bawah sinar yang redup, atau sarana belajar yang kurang, bisa aja berhasil dalam belajarnya soalnya dia kebiasa sama situasi-situasi kayak gitu.
Kesulitan sama hambatan belajar yang lain juga masih ada. Misalnya, nggak punya catatan, susah koordinasi buat belajar kelompok, susahnya dapet referensi kuliah yang ditentuin dosen, masalah ekonomi, jumlah buku di perpustakaan terbatas, adanya pengajar yang kurang profesional, fasilitas indekos yang kurang memadai, minimnya kemampuan bahasa asing, bagi yang kuliah dan kerja ada benturan waktu, perasaan minder dalam pergaulan di tempat belajar / kampus, aktivitas organisasi, dan buat yang udah punya pacar, konsentrasi belajarnya kadang terganggu. Nah loh.. Yang jomblo merdeka!
Kendala-kendala tadi kalau nggak cepet diatasin bisa jadi kendala dalam keberhasilan belajar.
Selain hal-hal tadi, kendala belajar muncul waktu seseorang ngalamin banyak masalah. Menurut W. S. Winkel, peserta didik ngalamin beberapa masalah kayak gini :
[1] Masalah dalam keluarga / di rumah. Interaksi antara anggota-anggota keluarga kurang harmonis; perpecahan rumah tangga (broken home), keadaan ekonomi yang kurang atau terlalu mewah, perhatian orang tua terhadap prestasi anak kurang atau keterlaluan dengan menuntut terlalu banyak;
[2] Masalah di sekolah / kampus atau dalam belajar di rumah yang berkenaan dengan motivasi belajar yang kurang sesuai, pilihan jurusan yang keliru, taraf prestasi belajar yang mengecewakan, cara belajar yang salah, kesukaran dalam mengatur waktu, guru / dosen bertindak kurang pedagogis atau malahan kejam, peraturan sekolah / universitas terlalu ketat atau terlalu lunak, hubungan yang kurang baik dengan teman-teman sekelas, dan lain sebagainya;
[3] Masalah pengisian waktu luang yang dikarenakan tidak punya hobi, membuang waktu dengan ‘ngeluyur’, pengaruh jelek dari teman-teman yang membawa ke bentuk-bentuk rekreasi yang merugikan, pacaran dengan menghadapi problem seperti cinta monyet, rasa iri dan cemburu, empati, antipati, dan sebagainya;
[4] Masalah dengan diri sendiri seperti penilaian terhadap diri yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sehingga muncul bentrokan dengan kenyataan, gelisah karena cita-citanya mungkin takkan tercapai (masa depan yang suram), ketegangan yang dialami antara ingin modern tapi masih terikat pada adat istiadat, konflik keagamaan, berhadapan dengan banyak kepentingan yang berlawanan, perang batin antara yang baik dan yang buruk.

Jadi supaya bisa belajar efektif dan lancar, semua kendala tadi disingkirin pake cara yang... yah.. sesuai sama bentuk kendala yang dihadepin mau itu yang sifatnya internal atau eksternal sekalipun. Trus juga apa itu ada kaitannya sama tingkat kematengan yang belum sampe ke taraf perkembangan tertentu buat melajarin sesuatu, intelegensia rendah, keadaan biologis keganggu, suasana lingkungan belajar yang nggak baik, penerangan nggak memadai, suasana belajar nggak kondusif, kegiatan yang terlalu kompleks jadinya suasana nggak tenang, atau banyak masalah.

Pegel? Sama. Tapi masih banyak banget yang belum di post. Berguna semua, pula. Pernah denger, katanya kalau punya ilmu, trus di bagiin bakal dapet pahala. Aamiin. Oke, postingan ini bakal dilanjut di postingan selanjutnya. InsyaAllah. Ya.. Semoga ada pembacanya. Komentar dulu sebelum pergi. Trims..

No comments:

Post a Comment