Hei! Ayo dibaca postingan yang ini. Biasanya kan gue posting
dari gue sendiri, kali ini gue mau berbagi hal dari sebuah buku yang
pernah gue baca... Dan belum rampung. Hehe. Yah, semoga bermanfaat lah. Sesuai
judunya, postingan kali ini bersangkut paut sama belajar. Mulai dari
pengertian, tujuan, kendala, faktor penunjang keberhasilan belajar, metode,
dsb..
Pertama, apa sih pengertian belajar? Kalau dari buku yang gue baca ini, belajar itu berarti mencoba, yaitu kegiatan mencoba sesuatu yang
belum atau tidak diketahui. Mungkin diantara readers, pengertian tadi masih
kurang. Tiap orang kan nggak selalu sama. Ya,simpulkan sendiri deh. Hehe.
Belajar itu identik banget sama membaca, membacanya bisa hal yang tertulis ataupun
nggak, jadi bisa ngebawa orang supaya tau sesuatu yang sebelumnya dia nggak tau.
Ngerti? Oke deh kalo ngerti. Tapi bener ngerti? Ngerti ga? Yang bener, nih?
Oke, abaikan.
Trus, apa tujuan belajar? Nah, dari buku lagi nih.. Katanya,
tujuan belajar itu sangat terkait dengan kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Apa aja? Ini dia :
● Untuk mendapatkan pengetahuan (acquiring knowledge).
Tujuan belajar yang ini biasanya ditandain sama kemampuan berpikir, soalnya pengetahuan
dan kemampuan berpikir itu dua hal yang nggak bisa dipisahin. (ciyyeee)
*ignore*.
● Penanaman konsep keterampilan. Keterampilan ini diperluin baik
yang sifatnya jasmani ataupun rohani. Keterampilan jasmani lebih ke keterampilan
gerak seseorang yang lagi belajar, lebih ke hal-hal teknis, juga pengulangan.
Kalau yang sifatnya rohani hubungannya sama penghayatan, keterampilan berpikir,
kreatifitas buat nyelesaiin atau ngerumusin masalah atau konsep.
● Pembentukan sikap. Disini, peran tenaga pengajar (guru atau
doden atau apalah yang berbau pengajar dan bukan bau asem pastinya) nggak
sekedar jadi pihak yang mentrasfer pengetahuan, tapi juga jadi pendidik yang mindahin
nilai-nilai pembentukan sikap buat para peserta didiknya.
Kendala Dalam Belajar
A. Kendala
Internal
Langsung aja ke contoh. Misalnya, kematengan yang belum nyampe
ke taraf perkembangan tertentu buat melajarin sesuatu, intelegensia yang rendah,
dan keadaan biologis yang keganggu.
Soal Intelegensia, biasanya biar tau tingkat kemampuan
intelegensia orang, pakenya tes IQ (Intelegence Quotion) atau mungkin tes
potensi akademik, atau tes-tes lainnya. Ke-nggak-cocokan jurusan sama kemampuan
intelektual, bakat khusus juga minat bisa juga jadi kendala dalam belajar.
Keadaan biologis yang keganggu juga bisa jadi kendala dalam
belajar. Kalau pepatah latin bilang : Men
sana in corpore sano. Kalau kata bahasa Indonesia, akal sehat terdapat dalam badan yang sehat pula. Contohnya orang
sakit, kalau orang lagi sakit, rasa sakitnya itu ngaruh buat dia termasuk waktu
lagi belajar. Nggak percaya? Mau nyoba? Coba sendiri ya. Atau mungkin juga cacat
jasmani, contohnya rabun senja, buta, bisu, tuli, lumpuh, gagu, termasuk juga
juling timpal dan kidal. Tapi pede aja ya, bagi yang ngalamin hal-hal tadi. Fisik
itu bukan prioritas yang bisa kita nilai untuk seseorang. Ada hal-hal lainnya
yang patut dinilai. (Weist! Tumben bijak. Emang bijak? Siapa yang bilang? Mau
banget dibilang bijak? Oke, lupakan). Lagipula, ada pepatah yang bilang “Don’t
judge the book by its cover”. Ya ga? Artinya apaan ya?
Punya cacat jasmani juga bisa numbuhin kesukaran
kepribadian. Cacatnya bisa menghambat proses belajarnya. Kesadaran soal adanya
kekurangan dibanding temen-temenya mungkin bisa bikin gangguan emosi, walaupun
keliatan normal. Nah, yang begitu itu tugas pendidik/pengajar supaya lebih
merhatiin peserta didik yang cacat jasmani supaya ngimbangin temen-temenya.
B. Kendala
Eksternal
Kendala ini bisa kayak suasana lingkungan belajar yang nggak
baik, penerangan nggak memadai, suasana belajar nggak kondusif, kegiatan yang terlalu kompleks, dsb. Kendala yang ini bisa diusahain
kayak ngebenerin situasi dan penyesuaian sama lingkungan. Misalnya, lingkungan
belajar yang nggak kondusif diusahain biar jadi kondusif dan kalau belum bisa
juga, bisa pindah ke lingkungan belajar yang lebih baik. Atau sebagainya.
Terus harus diinget juga, kalau situasi eksternal bukan
faktor dominan yang nentuin keberhasilan belajar seseorang. Kebiasaan juga
punya peranan disituasi ‘susah’ tadi. Oke, contoh : Seseorang yang biasa
belajar di tempat rame, atau di bawah sinar yang redup, atau sarana belajar
yang kurang, bisa aja berhasil dalam belajarnya soalnya dia kebiasa sama
situasi-situasi kayak gitu.
Kesulitan sama hambatan belajar yang lain juga masih ada.
Misalnya, nggak punya catatan, susah koordinasi buat belajar kelompok, susahnya
dapet referensi kuliah yang ditentuin dosen, masalah ekonomi, jumlah buku di
perpustakaan terbatas, adanya pengajar yang kurang profesional, fasilitas
indekos yang kurang memadai, minimnya kemampuan bahasa asing, bagi yang kuliah
dan kerja ada benturan waktu, perasaan minder dalam pergaulan di tempat belajar
/ kampus, aktivitas organisasi, dan buat yang udah punya pacar, konsentrasi belajarnya
kadang terganggu. Nah loh.. Yang jomblo merdeka!
Kendala-kendala tadi kalau nggak cepet diatasin bisa jadi
kendala dalam keberhasilan belajar.
Selain hal-hal tadi, kendala belajar muncul waktu seseorang ngalamin
banyak masalah. Menurut W. S. Winkel, peserta didik ngalamin beberapa masalah
kayak gini :
[1] Masalah dalam keluarga / di rumah. Interaksi antara
anggota-anggota keluarga kurang harmonis; perpecahan rumah tangga (broken
home), keadaan ekonomi yang kurang atau terlalu mewah, perhatian orang tua
terhadap prestasi anak kurang atau keterlaluan dengan menuntut terlalu banyak;
[2] Masalah di sekolah / kampus atau dalam belajar di rumah
yang berkenaan dengan motivasi belajar yang kurang sesuai, pilihan jurusan yang
keliru, taraf prestasi belajar yang mengecewakan, cara belajar yang salah,
kesukaran dalam mengatur waktu, guru / dosen bertindak kurang pedagogis atau
malahan kejam, peraturan sekolah / universitas terlalu ketat atau terlalu
lunak, hubungan yang kurang baik dengan teman-teman sekelas, dan lain
sebagainya;
[3] Masalah pengisian waktu luang yang dikarenakan tidak
punya hobi, membuang waktu dengan ‘ngeluyur’, pengaruh jelek dari teman-teman
yang membawa ke bentuk-bentuk rekreasi yang merugikan, pacaran dengan
menghadapi problem seperti cinta monyet, rasa iri dan cemburu, empati,
antipati, dan sebagainya;
[4] Masalah dengan diri sendiri seperti penilaian terhadap
diri yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sehingga muncul bentrokan dengan
kenyataan, gelisah karena cita-citanya mungkin takkan tercapai (masa depan yang
suram), ketegangan yang dialami antara ingin modern tapi masih terikat pada
adat istiadat, konflik keagamaan, berhadapan dengan banyak kepentingan yang
berlawanan, perang batin antara yang baik dan yang buruk.
Jadi supaya bisa belajar efektif dan lancar, semua kendala
tadi disingkirin pake cara yang... yah.. sesuai sama bentuk kendala yang
dihadepin mau itu yang sifatnya internal atau eksternal sekalipun. Trus juga
apa itu ada kaitannya sama tingkat kematengan yang belum sampe ke taraf
perkembangan tertentu buat melajarin sesuatu, intelegensia rendah, keadaan
biologis keganggu, suasana lingkungan belajar yang nggak baik, penerangan nggak
memadai, suasana belajar nggak kondusif, kegiatan yang terlalu kompleks jadinya
suasana nggak tenang, atau banyak masalah.
Pegel? Sama. Tapi masih banyak banget yang belum di post.
Berguna semua, pula. Pernah denger, katanya kalau punya ilmu, trus di bagiin
bakal dapet pahala. Aamiin. Oke, postingan ini bakal dilanjut di postingan
selanjutnya. InsyaAllah. Ya.. Semoga ada pembacanya. Komentar dulu sebelum
pergi. Trims..
No comments:
Post a Comment