Kali ini gue mau share sesuatu dari buku yang menurut gue bagus banget, karangan Tere-Liye. Karena ini agak memotivasi diri kita. Isi postingan ini masih sepersekian dari isi buku tersebut. Postingan kali ini, agak sedikit menjawab pertanyaan mayoritas orang. *Baca judul postingannya.* Kurang-lebih gini isinya...
Apakah kita memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan? Kenapa kita harus merasakan “hal ini” dalam hidup? Kenapa kita harus “begini”, padahal kita tidak pernah meminta?
Bayangkan sebutir gandum tergeletak sendirian di lantai, di gudang penyimpanan. Sebutir gandum itu jatuh saat karung-karung di tumpuk.... Lantas terkena sepakan kuli-kuli angkut yang beranjak pulang di sore hari,
terlempar kesana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel.... Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan ember kering persis diatasnya. Sempurna sudah melindungi sebutir gandum itu dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi, tidak pernah tampias meski air sepuluh tahun terakhir....
terlempar kesana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel.... Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan ember kering persis diatasnya. Sempurna sudah melindungi sebutir gandum itu dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi, tidak pernah tampias meski air sepuluh tahun terakhir....
Malam itu hujan deras....
Kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka basahlah dia. Kalau ditentukan kering, maka keringlah dia.... Begitulah kehidupan. Robek tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh semua sudah ditentukan....
Kalau urusan kecil itu saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan.... Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati, kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan. Setandan buah pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami.... Tidak ada yang melanggar aturan main itu. Hukum alam. Sebab-akibat.
Bagi manusia, hidup ini juga sebab akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupan kita menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupan kita.... Saling mempengaruhi, saling berinteraksi....
Sayangnya, tidak semua orang beruntung mengetahui apa sebab-akibat dari setiap kejadian yang dihadapinya.... Tidak banyak yang tahu apa sebab-akibat dari setiap keputusan hidup yang akan diambilnya. Apa sebeb-akibat dari kehidupannya yang mungkin dia pikir selama ini biasa-biasa saja, tidak berguna, atau menyakitkan malah.
Terlukis sebuah kisah, Kisah yang membuat kita mengerti terkadang sesuatu yang sederhana, bisa mengakibatkan sesuatu yang luar biasa besar... Bayangkan, dulu ada seorang Arab tua, renta, sakit-sakitan. Selama delapan puluh tahun Arab tua itu tinggal di oase gurun. Kehidupan oase yang biasa-biasa saja. Bahkan baginya sama sekali tidak berguna, tidak berarti.
Berkali-kali dia bertanya pada dirinya sendiri, buat apa hidupnya begitu panjang kalau hanya untuk terjebak di oase itu. Saat oase mulai mengering, saat orang-orang mulai pindah, menyedihkan dia justru memaksakan diri bertahan. Mengutuk tubuh tuanya yang tidak bisa lagi diajak pergi. Benar-benar kesia-siaan hidup.
Delapan puluh tahun percuma.... Dia menjalani masa kanak-kanak sama seperti teman-temannya. Menjadi remaja yang tak bosan bicara cinta sama seperti remaja lainnya. Bekerja menjadi pandai besi. Menikah. Punya anak. Dan seterusnya. Sama seperti penduduk oase lainnya. Istrinya meninggal saat tubuhnya beranjak tua, beberapa tahun kemudian anak-anaknya pergi ke kota-kota lain. Dan dia tertinggal. Sendirian, hanya sibuk berteman dengan pertanyaan apa arti seluruh kehidupan yang dimilikinya.
Suatu hari serombongan karavan melintas di puing-puing Oase yang mengering. Mereka tiba persis saat Arab tua itu mati di rumah kecil dan buruknya. Lihatlah, hingga maut menjemput Arab tua itu tidak tau sebab-akibat hidupnya.... Karavan itu tidak peduli, meneruskan perjalanan setelah mengisi penuh-penuh tempat air. Hanya satu yang peduli. Orang itu berbaik hati menguburkan Arab tua tersebut.
Dan ternyata orang yang berbaik hati itu terselamatkan atas pembantaian kawanan bandit yang menguasai gurun.... Karavan yang pergi lebih dulu itu ternyata binasa, tidak bersisa. Orang yang berbaik hati menguburkan Arab tua itu baru berjalan esok harinya menemukan bangkai dan sisa-sisa pertempuran mereka saat meneruskan perjalanan.
Bukankah kita tidak tau apa yang akan terjadi kalau Arab tua itu tidak meninggal hari itu, bukan? Orang baik itu juga ikut terbantai, bukan? Itulah sebab-akibat kehidupannnya. Yang sayangnya tidak dia ketahui hingga maut menjemputnya.
Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tau, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian—kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus sebab-akibat bagi orang lain. Mereka akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain.
Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa merubahnya, kecuali satu: Yaitu kebaikan.
Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu, seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa merubah siklusnya, maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin semua apa yang dilakukannya terlihat sia-sia, mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin.
Kecil-besarnya sebuah perbuatan, bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.
Kurang-lebih begitulah isi bukunya. Tapi itu masih sepersekiannya.
Oke, semoga bermanfaat. Jangan lupa komentarnya. Trims.
No comments:
Post a Comment